15
Agu
18

Seoul Dragon City, Berwisata Insentif di Bukit Naga

Seoul Dragon City menyediakan one stop service untuk wisatawan MICE. Lalu apa saja yang mereka sediakan untuk memanjakan business traveler dan para delegasi?

[Seoul Dragon City] Exterior

Seoul merupakan salah satu episentrum meeting industri di Asia Pasifik. Ribuan meeting
digelar di kota itu saban tahun. Lokasinya yang berada di zona “konflik” namun aman, membuat ribuan pertemuan terkait Korut dan China diadakan di kota itu. Seoul juga siap sebagai destinasi sport city.

Sejak 1988 mereka telah menggelar Summer Olympics 1988, lalu pada tahun 2002 menggelar Piala Dunia bersama negara Jepang. Ketika itu pula, Korea Selatan menjadi negara Asia pertama yang lolos sampai babak semi final.

Lanjut di 2010 pertemuan negaranegara G20 diadakan di Seoul, dan pada Februari lalu PyeongChang Winter Olympic Games sukses digelar. Seoul mencatat, pada tahun 2015 sekitar 494 meeting diadakan di ibu kota Korea Selatan ini. Jumlah itu mengangkat Seoul menjadi kota meeting terbesar ketiga di dunia.

Pemerintah Metropolitan Seoul kemudian menggelontorkan dana sekitar KRW 10 miliar untuk mendongkrak predikat Seoul sebagai kota MICE dari peringkat tiga dunia pada 2016 menjadi peringkat tertinggi pada 2017. Strateginya tak hanya gencar melakukan promosi, namun juga menawarkan beragam paket insentif menarik.

Selain itu, Seoul juga didukung dengan transportasi publik yang mumpuni, serta sejumlah tempat wisata unik dan bersejarah. Seoul juga menjadi destinasi wisata
insentif utama Asia Pasifik. Pasar inilah yang bakal digarap pemerintah kota Seoul dengan membangun Seoul Dragon City – salah satu venue MICE andalan Seoul sejak Oktober 2017.

Sejatinya, Seoul Dragon City bukan sekadar venue namun telah menjadi kompleks destinasi MICE yang terintegrasi. Di dalamnya terdapat empat merek grup AccorHotels:
Novotel Hotels & Resorts, Novotel Suites, Grand Mercure, dan ibis Style.

Lokasinya berada di distrik Yongsan, yang berarti Bukit Naga dan beradandi sisi utara Sungai Han. Sebutan Bukit Naga kian diteguhkan dengan bentuk bangunan Seoul Dragon City yang meliuk bak pose seekor naga. Keempat hotel yang mendiami Seoul Dragon City hanya menyediakan kamar, sementara fasilitas MICE terintegrasi di satu gedung yang berada di antara keempat hotel tersebut.

Ruang konvensi terbesar di Seoul Dragon City mampu menampung sampai 4.900 orang.
Seoul Dragon City juga memiliki dua Grand Ballroom: Grand Ballroom Hanra dan Baekdu yang masingmasing berluas 1.189 meter persegi dan berdaya tampung sampai 1.972 orang.

Tersedia pula 17 ruang pertemuan dan 8 private dinning rooms. “Karena kami merupakan kompleks hotel yang menyediakan akomodasi dari empat brand hotel berbeda, wisatawan insentif jadi punya banyak pilihan menginap,” ujar Amy Cho, Cluster SR. Sales Manager MICE, Sales & Marketing Seoul Dragon City.

Amy menjelaskan, Grand Mercure menyediakan 202 kamar dan kebanyakan melayani tamu long stay. Sementara Novotel Suites merupakan hotel bintang lima dengan 286 kamar, Novotel dengan 621 kamar, dan ibis Style dengan 591 kamar. Melengkapi fasilitasnya, Seoul Dragon City juga menyediakan restoran dan bar, fasilitas olahraga seperti pusat kebugaran, kolam renang, spa, sauna, serta lounge eksklusif.

Novotel_Deluxe Twin

Menyoal lokasi, Seoul Dragon City berlokasi strategis di kota Seoul. Lokasinya dekat dengan distrik bisnis utama yakni Yeouido dan Gangnam, serta distrik komersial seperti Itaewon dan Myeongdong. Sementara dari Bandara Internasional Incheon berjarak 57 kilometer dan dari Bandara Internasional Gimpo sekitar 22 kilometer.

Untuk mengakses lokasi Seoul Dragon City dengan transportasi publik pun terbilang mudah. Maklum saja, lokasinya bersebelahan dengan Stasiun Yongsan yang menjadi pusat transportasi utama, kereta api dan kereta bawah tanah. Nah, perencana wisata insentif dan meeting, buatlah rencana untuk membawa klien Anda ke Seoul Dragon
City. Anda bisa berhemat waktu dan biaya untuk menyelenggarakan satu event besar tanpa harus bepergian ke beberapa titik.

Alamat:

95 Cheongpa-rp 20-gil, Yongsan-gu, Seoul, 04372
T. (002-2223 7000)
W. http://www.seouldragoncity.com

*Tulisan tayang untuk Majalah VENUE edisi Juli 2018

Iklan
07
Agu
18

Meneladani Sang Elang

Pada usia menjelang setengah abad, burung elang akan bertransformasi. Dengan segala upaya dan melewati proses menyakitkan, ia mengganti paruh dan sayap lamanya menjadi baru. Setelahnya, ia kembali siap merajai angkasa.

eagle

TAHUKAH Anda kalau elang merupakan unggas yang berumur paling panjang di dunia? Usianya bisa mencapai 70 tahun. Namun, untuk mencapai usia tersebut, ia harus berupaya melewati proses panjang dan menyakitkan.

Pada usia 40 elang akan menua, paruhnya memanjang lalu bengkok nyaris menyentuh dada. Bulu sayapnya menebal membuatnya sulit terbang. Maka untuk bertahan, elang harus melewati proses transformasi yang menyakitkan.

Dengan kondisi yang menua, ia harus berusaha keras terbang menuju puncak gunung lalu membangun sarang di tepian jurang dan selama 150 hari ia harus melewati proses menyakitkan. Pertama ia akan mematukkan paruhnya sampai lepas dan menunggu paruh barunya tumbuh.

Lantas dengan paruh barunya ia akan mencabuti cakar-cakarnya dan kembali menunggu cakar barunya. Lalu dengan cakar barunya ia akan mencabuti bulu-bulu tuanya sampai tumbuh bulu baru. Panjang, dan jelas menyakitkan.

Namun, setelahnya, sang elang akan tampil dengan paruh, cakar, dan sayap barunya. Ia mengupayakan untuk tetap bertahan dan memperbaiki dirinya. Sang elang pun siap kembali terbang menyongsong hari depannya. Dari sang elang kita belajar bahwa sebuah perubahan tidaklah mudah dilakukan, kadang menyakitkan, namun harus diupayakan jika ingin bergerak maju.

Apa yang dilakukan sang elang jelas menuntut keberanian, lalu mental pantang menyerah dalam mencari solusi terbaik. Bayangkan saja, dalam kondisi menua
ia masih harus terbang ke puncak gunung dan membangun sarang. Lebih lagi, sang elang menuntaskan proses yang harus dilewatinya.

Mari meneladani keberanian sang elang. Transformasi harus terjadi, perubahan harus
diupayakan, dan teruslah bergerak maju.

*Tulisan pernah tayang untuk majalah internal Danamon, Spirit edisi Maret-April 2018

06
Agu
18

Seoul Memordenisasi Sejarah

Kekuatan pariwisata Seoul adalah bagaimana mengemas masa lalu mereka menjadi masa depan, dan diterima oleh selera mancanegara.

Palace Performance 8

Di jantung Korea Selatan, Seoul, pariwisata berderap ke masa lalu dalam balutan modern dan budaya pop. Para kreator hiburan di kota itu berhasil menjadikan sejarah sebagai industri masa depan. Cerita legenda diramu tak menjemukan, bahkan menggiring anak-anak muda menikmati memoar sambil memetik “nilai”. Mereka juga bersemangat mengunjungi museum dan situs sejarah.

Bekas tambang minyak pun disulap menjadi venue eksibisi seni sampai pertemuan bisnis. Tengoklah bagaimana industri hiburan mengemas kisah Cinderella ala negeri ginseng. Cerita dimulai ketika Korea diperintah Raja Yeosan (1494-1506) dari Dinasti Joseon.

Alkisah hiduplah budak istana yang cantik lagi rendah hati dan berbakat bernama Jang Noksu. Suatu ketika, Pangeran Je-an melihat bakat terpendam Jang Noksu. Ia lantas melatih Jang Noksu menjadi Gisaeng — wanita yang dididik khusus untuk menjadi penghibur layaknya geisha di Jepang. Sang Pangeran mengajarkan Jang Noksu berbagai hal, mulai dari menulis huruf kanji, beragam kegiatan seni, sampai kemampuan bela diri. Ternyata tak sulit melatih Jang Noksu, dalam waktu cepat ia sudah menjelma menjadi bintang di antara para gisaeng sekaligus menjadi gisaeng favorit para bangsawan Hanyang, ibu kota Joseon.

Raja Yeosan pun kepincut kecantikan serta kebaikan hati Jang Noksu, dan memintanya menjadi selir. Tawaran itu tak ditampik Jang Noksu. Segeralah selir ini menjadi primadona sekaligus mendominasi kerajaan. Di sisi lain, Pangeran Je-an yang selama ini memendam cinta pada Jang Noksu pun patah hati. Hingga suatu hari, Pangeran Je-an melihat ancaman kudeta politik kepada Jang Noksu dan Sang Raja. Ia sempat memperingatkan Jang Noksu, namun tak digubris. Jang Noksu tetap memutuskan pergi berlayar sembari berbulan madu dengan Raja Yeosan.

Benar saja, di tengah asyik perjalanan, kapalnya dihujani panah dari kelompok pemberontak yang tak suka dengan Raja Yeosan dan Jang Noksu. Kapal pun karam bersama kisah cinta keduanya. Kisah Jang Noksu ini juga dikenal sebagai kisah matinya Cinderella.

Meski berujung sedih, legenda Jang Noksu ini ditampilkan begitu apik lewat pertunjukan The Palace: Tale of Jang Noksu di Jeongdong Theater, Seoul, berkapasitas 282 kursi penonton. Lokasinya tak jauh dari Deoksugung Palace, serta memiliki fasilitas pelengkap seperti toko kerajinan tangan dan restoran.

Uniknya lagi, seluruh isi cerita hanya ditampilkan lewat tarian, tanpa ada dialog, hanya sinopsis yang muncul di setiap awal babak dari layar televisi di sisi panggung. Perhelatan berkesan modern. Karena tak banyak cakap pertunjukan selama 70 menit justru terasa begitu singkat. Pasalnya pertunjukan berjalan begitu dinamis.

Di awal kisah para pemain menampilkan koreografi apik sembari memainkan alat musik tabuh khas Korea bernama Janggu. Penonton pun tiba-tiba dilibatkan untuk melakukan aksi sirkus sederhana di atas panggung. Belum lagi, Hanbok (pakaian tradisional Korea) yang dikenakan pemain wanita sangat memanjakan mata, seperti menyaksikan pertunjukan seni dan peragaan busana sekaligus. Ditambah tata panggung dan lampu menyempurnakan pertunjukan. Menariknya, pertunjukan cerita rakyat yang dikemas dinamis ini dibawakan oleh kaum muda Korea.

Waktu pertunjukan:
Selasa-Sabtu pukul 16.00
Harga tiket:
VIP: 60.000 won
Reguler: 50.000 won
Pelajar: 40.000 won

Spot MICE

Jeong Dong Maru
Bagi Anda yang ingin mengadakan pertemuan bisnis bernuansa tradisi, bersebelahan dengan Jeongdong Theater tersedia venue bernama Jeong Dong Maru. Sebelum dibuka pada tahun 2018, tempat ini dulunya merupakan restoran Italia. Interiornya memadukan unsur tradisional dan modern.

Luas: 143 m²
Kapasitas (orang):
Standing: 80 orang
Alamat:
(04518) 43 Jeongdonggil,
Jung-gu, Seoul, Korea
W. jeongdongtheater.com

Jeongdong Maru (13)

Lotte World Folk Museum
Lotte World Folk Museum berada di dalam kompleks taman bermain Lotte World Amusement Park yang sudah berdiri sejak tahun 1989. Di museum ini, sejarah Korea lintas dinasti dan masa disajikan dengan apik, modern, serta memanfaatkan teknologi.

Mempelajari sejarah di museum ini terasa menyenangkan. Pada bagian awal Anda akan menikmati sejarah Korea dari masa ke masa, lalu memasuki area replika bangunan khas Korea. Di sini Anda akan kagum bagaimana bangunan kerajaan Korea di masa lampau dibuat begitu detail dan megah lengkap dengan barisan tentara kerajaan. Ada pula bangunan rumah-rumah tradisional di masa lampau, serta area menggambar yang disediakan untuk anak-anak.

FOLKMUSEUM_2

Oil Tank Culture Park
Pernah membayangkan mengadakan ekshibisi seni atau pertemuan bisnis di bekas tangki kilang minyak? Di Oil Tank Culture Park imanjinasi itu menjadi nyata. Dulunya, tempat ini merupakan Mapo Oil Depot yakni depot minyak grade 1 yang terlarang untuk publik.

Tank Exterior

Setelah 41 tahun teronggok, Pemerintah Metropolitan Seoul merevitalisasi bekas tangka minyak menjadi venue ekshibisi seni, pertemuan bisnis dan berbagai kegiatan sosial dan dibuka sejak tahun 2017. Oil Tank Culture Park memiliki luas setara dengan 22 lapangan bola. Terdiri dari enam tangki di mana masing-masing tangki menawarkan fungsi berbeda.

T-1 atau Tangki 1 beratap kaca biasa digunakan untuk eksibisi, T-2 merupakan area panggung luar ruang, T-3 dibiarkan apa adanya, T-4 juga digunakan sebagai ruang pamer, T-5 merupakan area museum yang menceritakan sejarah Mapo Oil Depot, dan T-6 menjadi ruang informasi lengkap dengan kafe dan ruang pertemuan.

Alamat:
87 Jeungsan-ro, Seongsandong, Mapo-gu, Seoul
W. English.seoul.go.kr/oil-tank-culture-park

Sumber foto: Seoul Tourism Organization

Tulisan pernah tayang di Majalah VENUE Edisi Juni 2018

30
Apr
15

Cikuray, Trek Pendakian Tiada Ampun

Setiap perjalanan selalu meninggalkan kesan dan pelajaran. Kali ini saya tertunduk malu, menyesali kesombongan telah meremehkan persiapan pendakian.

Tahun lalu saya berhasil menjejakan kaki di lima dari tujuh puncak Gunung Merbabu di Jawa Tengah. Keberhasilan yang nggak seberapa itu ternyata sudah membuat saya demikian sombong dan merasa cukup. Padahal banyak pendaki yang lebih hebat, banyak gunung yang lebih tinggi dengan medan lebih berat ketimbang Merbabu. Cikuray menampar saya keras tentang arti kerendahan hati.

Saya selalu bilang dan meyakini, bahwa setiap gunung punya karakternya sendiri, setiap pendakian punya ceritanya sendiri. Seharusnya saya bijak menyikapi setiap pendakian dengan persiapan matang. Ketinggian Cikuray mencapai sekitar 2821 mdpl (menurut Wikipedia), di bawah Merbabu. Maka ketika mendengar ajakan kawan menyambangi Cikuray saya mengiyakan tanpa ragu, dalam hati saya, ‘ah Merbabu saja bisa, masak Cikuray tidak’. Padahal hasil penelurusan saya lewat Youtube dan cerita-cerita pendakian Cikuray di blog-blog pendaki, semua mengatakan trek yang berat, istilahnya jidat ketemu dengkul. Cuma karena bisa menyelesaikan lintasan Merbabu saya lantas sombong berat yakin Cikuray pun lewat.

Sebelum berlanjut, pendakian kali ini saya lakukan pada 25-27 April lalu bersama dua rekan yang tahun lalu bersama ke Merbabu, Mr.Bonds n Danru. Ini semacam pendakian reunian lah. Lama tak jumpa, cerita pengalaman-pengalaman seru di Merbabu membuat kami geli mengingatnya.

Kami berangkat dari Ciputat dengan bus malam menuju Terminal Guntur, Garut. Kira-kira pukul 18.30 kami takeoff dari pool bus malam, perjalanan keluar pool selow banget, supirnya kayaknya lupa nginjek gas..haha…tarif bus sekitar Rp52 ribu. Menjelang pagi kami sampai di Terminal Guntur, isi perut dulu sembari menunggu rombongan pendaki lain supaya bisa sama-sama naik pick up (ongkos Rp45 ribu/orang) menuju Pos Pemancar, pos awal pendakian.

Sedikit informasi soal Cikuray, gunung ini berada di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dengan ketinggian 2821 mdpl, gunung ini menjadi gunung tertinggi keempat setelah Gunung Gede. Kaki Gunung Cikuray banyak digunakan oleh stasiun televisi untuk mendirikan pemancar, itu kenapa pos awal pendakian Cikuray disebut Pos Pemancar.

Hello Universe!!

Hello Universe!!

Kira-kira jam 03.00 dinihari, setelah ‘sok’ akrab dengan rombongan pendaki lain, kami menuju Pos Pemancar, ada sekitar 13 pendaki di pick up, trek menuju Pos Pemancar ternyata ngeri-ngeri sedap. Setelah melewati perkampungan, kami masuk ke kawasan perkebunan teh yang seluas-luasnya kebun teh lah. Medannya mendaki, jalanannya berbatu dan sempit, asoy lah sepanjang jalan, ala-ala offroad. Bahkan sudah menjelang pos, si pick up pake slip dan mobil mundur karena nggak kuat nanjak. Terpaksa semua turun, berjibaku mengangkat mobil yang slip, dan kami terpaksa berjalan kaki sedikit, lumayan pemanasan di subuh hari, walau akibatnya salah satu anggota tim agak drop :(.

Istirahat sejenak di Pos Pemancar ngelempengin punggung, sambil benerin packing keril, sekitar pukul 06.00 kami mulai pendakian. Ditemani dinginnya pagi tanpa sinar mentari, trek diawali dengan melintasi perkebunan teh, tanjakannya lumayan buat pemanasan. Kelar perkebunan teh, kami disambut sebuah pos yang katanya punya Perhutani untuk daftar dan bayar uang pendaftaran yang ‘seiklhasnya. Disini masih ada warung dan sebaiknya persediaan air dipenuhi, karena di tempat ini titik terakhir tersedia air.

Perjalanan berlanjut, melewati tanjakan asoy. Tanah merah mendominasi trek, sebelum memasuki kawasan hutan, ada beberapa tanjakan yang kami lewati. Namanya juga lucu-lucu, ada Tanjakan Asoy, Tanjakan Ambing, sampai Tanjakan WakWaw…tanjakan yang kekinian sekali…

Wakwaaawwwww

Wakwaaawwwww

Ya begitulah, di awal pendakian karena belum memasuki kawasan hutan, pemandangannya cantik sehingga asyik buat foto-foto. Jreng-jreng, memasuki kawasan hutan, bersiaplah, karena trek menanjak, dengan akar-akar disana-sini, plus kerapatan hutan membuat sinar matahari jarang ditemui.

Dimulai

Pendakian Cikuray terdiri dari 7 pos, dari pos 1 ke pos 2, semangat masih menggebu meski napas memburu. Pos 2 menjelang pos 3, lintasan yang harus dilewati lumayan panjang, udah panjang mendaki pula, terjal dan kadang mesti kaki mesti melangkah sangat lebar. Bayangin bawa keril dan ransel dengan persediaan air banyak harus mendaki. Beraaaatttt. Perjalanan pos 2 ke pos 3 benar-benar membuat kami bergulat dengan diri sendiri. Menyerah atau lanjut.

Trek GeboyAmpun

Tanjakan tiada habis tiada ampun

Tanjakan tiada habis tiada ampun

Lintasan panjang dan mendaki

Lintasan panjang dan mendaki

Asyiknya di gunung itu, sesama pendaki saling menyemangati dan terasa akrab padahal tidak saling kenal. Seperti kami, di tengah perjalanan yang terasa berat, kami jumpa dan akhirnya ‘jalan’ bareng sampai pos 4. Tim yang satu terdiri dari 3 orang anak-anak SMU yang baru menyelesaikan UN dan pergi ke gunung mo semedi berharap lulus UN. Hebatnya, 3 anak ini sudah untuk ketiga kalinya mendaki Cikuray. Dengan medan jidat ketemu dengkul macam itu, saya salut mereka berani mengulang pendakian.

Nah, yang satu lagi, pendaki solo, anak Lampung yang kuliah di Purwokerto. Setelah diusut, ternyata doi sedang patah hati dan sedang melakukan ‘terapi berpikir positif’ akibat patah hati.

Kawan baru, ada yang abis UN, merayakan kelulusan yang belum tentu. ada juga yang patah hati baru putus cinta :)

Kawan baru, ada yang abis UN, merayakan kelulusan yang belum tentu. ada juga yang patah hati baru putus cinta 🙂

Mencapai pos 3, kami sudah merasa kelelahan luar biasa, entah kenapa sepertinya kami bertiga sama-sama tidak sedang dalam kondisi fisik terbaik. Persiapan yang kurang karena cenderung meremehkan. Tapi kami nekat meneruskan perjalanan, sayang sampai di pos 4 habis sudah daya kami. Ketimbang memaksakan diri, kami memutuskan berhenti dan ngecamp.

Saya agak sebal dengan komentar salah seorang pendaki, ia bersama tim dan anaknya yang mungkin baru berumur 4 tahun mengatakan, “Tenang, nanti sampai puncak stamina pasti langsung pulih, saya sering membuktikannya. Masakan kalian kalah sih sama anak saya,” katanya nyinyir. Karena gemas, saya jawab, “Anak bapak nggak bawa keril kali”. Duh, sombong sekali itu orang, sepertinya cuma dia yang selalu berhasil naik gunung, kedua, anaknya bahkan tidak dilengkapi dengan peralatan mendaki yang baik, yang paling kasat mata, anaknya hanya pakai sandal jepit. Jadi pendakian itu, maunya si anak atau cuma obsesi si bapak?.

Lucunya, keesokan harinya, bapak itu dan timnya turun dan bilang gagal mencapai puncak, cuma berhasil sampai pos 6. Katanya logistik sudah habis. Lho makin aneh saya, mendaki gunung, bawa anak kecil tapi logistik gak diperhitungkan.

Ah lewat lah soal itu.

Akhirnya kami hanya berhasil sampai pos 4, buka tenda, makan malam yang kecepetan lalu kami memutuskan istirahat. Malam harinya, ada kejadian yang sampai saat ini kalau diingat membuat saya merinding. Saat makan malam babak kedua, tiba-tiba saya mendengar suara orang sedang menyapu dengan sapu lidi, merinding sih, tapi justru saat pulang kami membahas kejadian itu saya makin merinding ngeri..ah…anggap saja romantika pendakian.

Senin pagi, kami bersiap pulang. Dengan kondisi kaki sudah gemetar dan otot-otot sudah tegang kami berjalan pulang dengan hati gembira. Tapi canda gurau kami tak lama, karena hujan deras tiba-tiba turun. Nah, bayangin deh, trek tanah kena hujan licin, becek, belum lagi akar-akar yang licin, harus saya lewati dengan kaki sudah lemas.

Alhasil, sepanjang jalan turun saya dituntun oleh dua orang pria kekar Mr. Bonds and Danru. Beberapa kali pula terpeleset, dari sakit sampai malu rasanya…haha. Baru kali itu, perjalanan turun pendakian terasa ekstra berat ketimbang pendakian. Kami memang memutuskan terus berjalan walau hujan.

Sampai di bawah, menjelang pos akhir, saya berhenti dan entah kenapa saya nangis. Cengeng bukan main ya. Bukan apa-apa, saya malu, saya menyesal, betapa sudah meremehkan Cikuray hanya karena berhasil di Merbabu. Saya sudah sombong, saya lupa bahwa alam punya kekuatannya untuk dengan mudah menyentil manusia. Saya menangis sesal, tapi sekaligus bersyukur, satu pelajaran lagi didapat.

tunduk pada Cikuray!

tunduk pada Cikuray!

DSCN0163

Bahwa alam punya caranya sendiri mengajarkan manusia akan makna kehidupan, bahwa benar kata orang kalau keberhasilan pendakian bukan sekadar mencapai puncak, tapi bisa kembali pulang dengan selamat. Bahwa, sejatinya manusia tidak bisa hidup sendiri, seberapapun kekuatan dan kemampuan saya menghadapi pergumulan hidup, saya tetap butuh orang lain, saya tetap butuh Tuhan.

Maka selagi muda, selagi sehat, saya berharap bisa terus berjalan, menyelami Nusantara, mengukir cerita, memetik banyak pelajaran.

Pencitraan semata....

Pencitraan semata….

Terima kasih buat Mr.Bonds dan Danru sudah menemani pendakian kali ini. Sekelumit cerita terukir lagi, semoga masih ada waktu untuk membuat cerita manis lainnya ya.

Berhasil...berhasil kembali pulang dengan selamat :)

Berhasil…berhasil kembali pulang dengan selamat 🙂

24
Okt
14

Srikandi itu Pergi

Ujian atas iman memang tidak pernah mudah. Apalagi jika dalam kurun waktu seminggu, dua anggota keluarga terkasih dipanggil Tuhan. Ya, yang dalam sehari diambil seluruh keluarganya pun ada. Belum genap seminggu, tante, adik bungsu ibu, dipanggil Tuhan, tanpa sakit dan begitu mendadak. Sekarang giliran bude, kakak sulung ibu, dipanggil Tuhan. Sampai kemudian muncul pertanyaan, apa rencanaMu Tuhan?

Tuhan memang bekerja dengan caranya yang misterius, manusia punya mau tapi Tuhan lebih tahu yang kita perlu. Terdengar indah ya, tapi saat cobaan datang, rasanya sulit untuk dilakukan.

Entah kenapa, saya selalu meyakini, makna kehadiran seseorang plus manfaatnya bagi sesama nampak saat kematiannya. Berapa banyak orang yang datang melayat, sebanyak itu ia meninggalkan kesan. Kejadian ini nampak ketika kakek saya (ayahnya ibu) meninggal bertahun-tahun silam, begitu banyak pelayat yang datang. Maklum, selain sebagai guru sekaligus kepala sekolah, kakek saya aktif dalam kegiatan gerejawi bahkan pencetus koperasi pertama di desanya.

Pemandangan yang sama terjadi ketika tante, bulik manis, begitu kami memanggilnya, meninggal seminggu lalu. Disapa bulik manis karena memang parasnya ayu. Setelah menikah, tante saya ini pindah ke pulau seberang mengikuti suaminya. Jarak yang jauh membuat ia jarang kumpul di momen-momen kebersamaan keluarga. Untungnya, komunikasi via telepon dan jejaring sosial sempat tersambung.

Setelah meninggal, saya baru tahu bulik manis begitu menghayati profesinya sebagai suster dan bidan. Tak pelit ilmu, tak segan berbagi, tak ragu membantu. Di kampungnya, Tanjung Pinang sana, ia merelakan mobil pribadinya sebagai ‘ambulance’ darurat bagi warga sekitar. Ia pula, secara khusus belajar nyetir demi bisa mengantar ‘pasien’ dadakannya. Dari kesaksian warga sekitar, kami baru tahu bulik manis begitu ringan tangan menolong tetangga sekitarnya. Di rumah sakit tempatnya bekerja, karirnya juga terbilang bagus. Pembawaannya yang riang dan ramah, serta tawanya yang renyah membuat bulik manis begitu dicinta. Ia pergi dalam usia relatif muda, 43 tahun, tapi legacy yang ia tinggalkan, terasa manis dan tak terlupakan.

Yang saya tahu, pergumulan hidup yang ia hadapi tidak mudah. Apalagi tinggal jauh dari kerabat dan saudara sekandung membuatnya bertahan menghadapi semua sendirian. Tapi rasanya, bulik manis pergi setelah ia menggenapi ‘tugas’nya di muka bumi.

Belum genap seminggu kehilangan, kemudian menyusul bude kami tercinta. Ia seperti ingin menemani adik bungsunya, bude juga telah menuntaskan perjuangannya. Tinggal berlainan kota dengan kedua srikandi ini memang membuat saya tidak mengenal dalam mereka. Tapi saya tahu, keduanya srikandi-srikandi perkasa, yang tidak mudah menyerah pada keadaan.

Bude sebenarnya sudah beberapa tahun belakangan sakit, bisa dibilang terkena stroke. Di tengah sakitnya, keimanannya kian hari kian kuat. Ia yang tak pernah luput mengirimkan pesan singkat tiap pagi kepada saudara-saudari sekandungnya, sms yang berisi ayat-ayat Firman Tuhan. Betapa hebat, ia yang sudah terbatas gerak motoriknya, ia yang sudah sulit berbicara bisa menguatkan kami yang sehat bugar ini.

Beberapa kali mengunjungi bude saat sakit, saya kesulitan membendung haru. Daya ingat bude ketika itu amat luar biasa, ia mengingat setiap nama bahkan keluarga yang paling jauh. Bude mendoakan saya yang masih lajang ini, padahal ia yang lebih butuh didoakan. Ia yang menasihati saya, supaya mulai merangkai masa depan, mulai mencari sang belahan nyawa, padahal bertemu pun kami hanya setahun sekali, tapi dia bisa menasihati begitu dalam.

Saya menyaksikan, gesit dan lincahnya kedua almarhum srikandi ini di masa lalunya, masa mudanya, masa mereka masih dianugerahi kesehatan.

Dua orang terkasih pergi dalam kurun kurang dari seminggu siapa bisa percaya, sulit pula untuk menerima. Tapi inilah ujian atas kekuatan dan ketabahan iman. Toh segala sesuatu memang ada masanya.

Bude Kus sayang, Bulik Manis tercinta, selamat jalan. Kelak suatu hari, kita kumpul kembali tanpa kesakitan tanpa air mata, yang ada hanya sukacita.

28
Apr
14

Tertawan Pesona Dieng Plateau

Alkisah, ribuan tahun lalu, sebuah gunung berapi meletus dahsyat. Gunung yang terbelah menjadi dataran, yang kemudian bernama dataran tinggi Dieng atau Dieng Plateau. Nama Di Hyang merupakan gabungan dua bahasa Kawi, Di yang berarti tempat atau gunung dan Hyang yang bermakna Dewa. Itu kenapa, Dieng atau DiHyang dipercaya sebagai tempat bersemayam para dewa.

Tahun 600 masehi, Dieng di masa kerajaan Chandra Gupta Sidhapala oleh umat Hindu diyakini sebagai poros dunia. Ketika itu, menurut beberapa literatur, Sang Hyang Jagadnata memindahkan gunung kosmik ‘Meru’ dari India ke Gunung Dieng. Maka sebagai ibukota kerajaan, Dieng bukan cuma jadi pusat pemerintaan tapi juga pusat spiritualitas dan peradaban. Hmm, pantes aja, ketika berkunjung ke Dieng, bukan cuma alamnya mempesona, tapi banyak cerita, sejarah dan legenda yang bikin saya banyak bilang, “oooo”, “waahh, masak sih?” dan ekspresi lain ketika mendengar kisahnya dari penduduk lokal.

Jadi, petualangan kali ini saya lakukan dengan ‘komunitas’ yang lain lagi. Tujuannya Dieng Plateau bersama kawan-kawan kantor, tapi asyiknya diantar oleh sahabat baik saya sejak jaman kuliah. Jadilah kami berlima menuju Dieng tepat di akhir pekan panjang tanggal 17-20 April lalu. Perjalanan dimulai sepulang kerja, di hari Kamis (17 April) malam sekitar pukul 22.00.  Harapannya, sekalipun macet masih bisa ditolerir karena sudah malam dan targetnya tiba di Dieng lepas tengah hari keesokannya. Tapi harapan tinggal harapan, target pupus sudah, tol dalam kota menuju Cikampek lalin padat merayap. Dan kemacetan lebih parah terjadi saat memasuki jalur Pantura, akibat jalan rusak di jalur Pantura menuju Cirebon, dan kendaraan yang saling serobot, kami pun stuck sampai 5 jam tanpa gerak. Menjelang subuh kami baru keluar Pantura.

Di daerah Brebes lalu lintas kembali tersendat karena perbaikan jalan. Kayaknya pada kejar target sebelum musim mudik Lebaran, aahh penyakit dari tahun ke tahun.

Setelah perjalanan panjang, sore hari kami tiba juga di Purwokerto, mengisi perut yang kelaparan di sebuah warung padang yang meja dan kursinya banyak dan dekil banget. Aaahh, karena lapar, nggak mikir lagi lah steril apa enggak. Dari Purwokerto menuju Dieng perjalanan masih lumayan panjang, jarak Jakarta Puncak lah.

Akhirnya, berteman gerimis dan agak nyasar karena sahabat yang mengantar kami sedikit lupa jalan, sekitar jam 19.00 kami tiba di Dieng. Udara dingin menusuk, jalur berkelok-kelok, dan bintang di langit yang bertaburan. Alangkah langkanya pemandangan macam ini.

Kami menginap di Kates Homestay, sahabat saya yang mengantar kami sudah pernah menginap disini dan cukup akrab dengan pemiliknya. Kami disambut ramah oleh pasangan pemilik penginapan, rumah yang tidak terlalu besar itu ditata rapih, apik dan warna-warni, saya sendiri merasa nyaman ketika pertama kali masuk.

Perjalanan panjang membuat kami lapar berat, malam itu kami memutuskan makan malam di rumah makan di penginapan Bu Djono. Penginapan ini cukup kesohor, tapi menurut saya karena letaknya di dekat keramaian, terasa kurang privat.

Salah seorang anggota tim yang memang sudah pernah berkunjung sebelumnya, merekomendasikan kami untuk mencoba menu pancake banana dan tempe mendoannya. Dan benar saja, dengan harga yang ramah banget di kantong, pancake dan tempe yang kami pesan ludes sesaat. Kayaknya sih perpaduan rasa enak dan lapar akut. Lepas makan malam membabi buta itu, kami memutuskan kembali ke penginapan dan segera balas dendam tidur untuk esok hari menjelajahi Dieng.

 

Inilah pancake banana ituuuuu...endesss sodara sodaraaa

Inilah pancake banana ituuuuu…endesss sodara sodaraaa

 

tempe mendoan nan juara

tempe mendoan nan juara

 

Dataran Tertinggi Kedua di Dunia

Secara administratif, dieng mencakup Desa Dieng Kulon yang masuk Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Wetan, masuk Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Dengan ketinggian lebih dari 2000 mdpl, Dieng menjadi dataran tertinggi kedua setelah Tibet/Nepal. Itu juga kenapa, sepanjang hari cuaca Dieng selalu dingin, berkisar 15-20 derajat celcius di siang hari dan 10 derajat celcius di malam hari. Bahkan di musim kemarau seperti Juli-Agustus suhu bisa mencapai 0 derajat celcius sehingga memunculkan embun beku di pagi hari. Gileee, pantesan warga lokal pipinya akan merona merah ketika terkena panas matahari.

Kembali ke petualangan, Sabtu kami bangun penuh semangat, bahkan anggota tim yang semua pria, kecuali saya tentunya, bangun sebelum pukul 07.00 pagi. Hebaaaatttt, coba kalo hari kerja, dijamin belom pada bangun. Bergegas mandi, dan sarapan kentang goreng ala Dieng buatan nyonya pemilik homestay kami mulai petualangan.

Target pertama kami adalah Telaga Warna, harga tiket masuknya hanya Rp6000/orang. Setibanya disana, kami agak kaget karena sudah ramai pengunjung, kebanyakan siswa yang sedang study tour. Akhirnya kami memutuskan untuk menikmati Telaga Warna dari puncak bukit Sidengkeng. Sedikit ngos-ngosan mencapainya, tapi dari puncak bukit, pemandangan ajib, apalagi matahari bersinar cerah pagi itu dan langit biru amat bersih, sempurna.

Aksi jeprat jepret pun segera dimulai, asyiknya, dua anggota tim yang ikut notabene fotografer, jadi jangan iri ya kalau hasil fotonya juga juara.

All team di Telaga Warna

All team di Telaga Warna

 

 

 

 

 

 

 

 

Masih di Telaga Warna.....

Masih di Telaga Warna…..

 

Menuju Puncak Bukit Sidengkeng

Menuju Puncak Bukit Sidengkeng

Rindangnya kawasan Telaga Warna

Rindangnya kawasan Telaga Warna

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

View Telaga Warna dari puncak Sidengkeng

View Telaga Warna dari puncak Sidengkeng

Lepas Telaga Warna, setelah sarapan seadanya, kami menuju Kawah Sikidang. Bersiap masker karena disini bau belerang cukup menyengat. Kawah Sikidang sebenarnya sebuah kolam besar dengan air bercampur lumpur. Konon air dan lumpur mencapai suhu 98 derajat celcius dan bisa lebih panas, makanya di sekitar kawah diberi pagar bambu untuk keselamatan pengunjung. Kawasan Dieng memang menyimpan kekayaan panas bumi atau geothermal.

Di Kawah Sikidang, warga lokal juga menyediakan motor trail dan orang dengan kostum menyerupai antagonis dalam film scream sebagai obyek bagi pengunjung untuk berfoto. Unik.

sekitar Kawah Sikidang...ajibbb bukaaannn??

sekitar Kawah Sikidang…ajibbb bukaaannn??

 

tenang, itu motor trail standarnya udah dibuat permanen....hihihi

tenang, itu motor trail standarnya udah dibuat permanen….hihihi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kelar  Kawah Sikidang, kami menuju Candi Arjuna, salah satu ikon yang wajib dikunjungi di Dieng. Lagi-lagi kami kaget, karena kawasan Candi penuh dengan pengunjung, alih-alih dapat foto eksklusif, para kawan fotografer saya kehilangan semangat motret. Maka kami memutuskan berjalan menuju Museum Kailasa tak jauh dari situ. Perjalanan dari Candi Arjuna ke Museum Kailasa melewati jalan konblok, di sisi kanan kiri tampak penduduk lokal sedang memanen kentang.

here we are di Candi Arjuna

here we are di Candi Arjuna

 

 

 

 

 

 

 

 

Museum Kailasa berisi artefak peninggalan purbakala, adapula bioskop mini yang menampilkan film sejarah candi di Dieng. Candi-candi di Dieng merupakan kompleks candi Hindu dari agama Siwa. Ada juga beberapa kompleks candi lain, tapi sayangnya saat kami datang sedang dalam proses pemugaran.

Kelar nonton bioskop ala Museum Kailasa, hujan deras mengguyur. Kami pun berteduh di warung-warung yang tertata rapi di depan Museum. Susu jahe dan tempe goreng tepung jadi teman kala dingin. Plus cemilan jamur goreng renyah yang bikin kami ketagihan.

Dari Museum Kailasa, setelah hujan reda kami bergegas kembali ke Candi Arjuna dengan harapan kawasan candi sudah sepi paska hujan. Ya, dugaan kami nggak salah tapi nggak bener-bener amat, pengunjung masih banyak tapi relatif sepi. Segeralah kami ancang-ancang foto sana sini.

Dari Candi Arjuna, kami melipir agak jauh dari pusat kota menuju Sumur Jalatunda. Berbeda dengan obyek sebelumnya, mungkin juga karena hujan, lokasi ini terbilang sepi pengunjung. Sore itu saja, hanya ada kami dan dua pengunjung lain. Untuk menuju sumur kami harus menapaki puluhan anak tangga, konon, jumlah anak tangga ini akan berbeda ketika naik dan turun. Kalaupun ada yang tepat menghitung, dipercaya karena amal ibadahnya baik. Yaaa, ketebak lah, dengan amal ibadah gw yang seadanya ini, perhitungan jumlah anak tangga pun meleset, begitupula dengan anggota tim yang lain. Hahahaha, kebanyakan dosaaaa.

Jalatunda sendiri dalam bahasa Jawa berarti besar, benar memang, sumur ini diameternya 90 meter dengan kedalaman, menurut guide kami, sekitar 1000 meter. Penjelasan ilmiahnya sih, sumur ini terbentuk karena letusan gunung berapi jutaan tahun lalu, kemudian terisi air dan terbentuk menyerupai sumur. Di pendopo pinggir sumur, sudah ada warga lokal yang menjual batu. Katanya, kalau berhasil melempar batu dan sampai ke deretan bunga di dasar sumur maka keinginan akan terkabul. Yaahh, lagi-lagi, tidak ada satupun dari kami yang berhasil, hahahaha.

Sumur Jalatunda yang spooky

Sumur Jalatunda yang spooky

Suasana di lokasi ini agak bikin merinding, malah guide kami berkisah, setiap tahun pasti ada saja korban yang ditemukan di dasar sumur, masih sumir apakah bunuh diri atau memang sumur minta tumbal. Katanya lagi, setiap jam 5 sore, para dayang-dayang akan berkumpul di pendopo tempat kami menikmati sumur dari atas. Pas kami kesana, pas menjelang sore, daripada kenapa-kenapa sebaiknya kabuuuuurrrrr.

Dari Sumur Jalatunda, perjalanan kami lanjutkan ke Dieng Plateau Theater. Nah, di perjalanan ini, kami melewati tempat yang dulunya bernama desa legetan. Alkisah, karena warga yang gemar berjudi, seks bebas dan foya-foya, desa ini dihancurkan oleh longsoran Gunung Pengamun Amun. Ini terjadi di tahun 1958 dengan jumlah korban jiwa mencapai 450 an orang, alias satu desa habis semua. Di tempat ini kemudian didirikan tugu sebagai peringatan. Di tengah hujan, cerita sang guide tentang Desa Legetan cukup membuat kami bergidik.

Akhirnya hari itu kami tutup dengan menyaksikan legenda terjadinya Dieng di Dieng Plateau Theater. Bioskop mini ini menampilkan film yang cukup informatif. Kami dibuat merinding ketika mendengar cerita Tragedi Kawah Sinila.

Dikisahkan tahun 1979, Kawah Sinila meletus dan menyemburkan asap gas beracun. Warga sekitar yang tidak siap, berhamburan menyelamatkan diri namun justru kearah berkumpulnya asap. Maka korban jiwa tidak terhindarkan, sekitar 149 nyawa melayang. Merinding mendengarnya. Cerita tragedi Sinila menutup hari itu, membuat kami menyadari, di negeri yang kaya potensi alam dan budaya, harus ada kearifan lokal agar bisa hidup bersandingan.

Aahh, penjelajahan sehari itu membuat saya jatuh cinta pada Dieng. Sepanjang jalan, hijau menghampar, pegunungan di kanan kiri, pertanian dan perkebunan subur, asap panas bumi mengepul di sana sini pertanda mineral yang dikandung bumi Dieng begitu kaya. Belum lagi, warga lokal yang ramah, jajanan yang beragam dan harganya masuk akal.

Kami berlima sepakat, harusnya kompleks wisata seperti Dieng. Dimana lokasi wisata saling berdekatan, bukan cuma wisata alam tapi juga kaya muatan sejarah.

Hari itu kami tutup dengan senyum walau lelah, malam menjelang, kami bersiap esok pagi memburu matahari terbit di Bukit Sikunir.

 

Berburu Matahari Terbit

Minggu dini hari, tepat jam 2.30 pagi kami sudah bangun. Perjuangan benar membuka mata sepagi itu, cuci muka sekenanya, maklum dingin menusuk tulang, kami bersiap memburu matahari terbit di Bukit Sikunir. Dan ternyata yang punya ide serupa dengan kami banyak jumlahnya, menuju Sikunir, kendaraan sudah padat, manusia-manusia pemburu matahari terbit ratusan jumlahnya pagi itu. Dalam sejarah, baru sekali saya mendaki sampai antri.

Kira-kira sejam kami sudah mencapai puncak bukit. Berfoto dengan taburan bintang tentu tak kami lewatkan. Beruntung benar jalan-jalan kali ini bersama fotografer handal. Menunggu sunrise, langit agak berawan, sempat khawatir matahari tidak akan nampak jelas. Ternyata menjelang pukul 06.00, sang mentari muncul perlahan, bulat penuh, sinarnya terang dan hangat. Sayang, suasanya pagi itu ramai bak pasar, orang sibuk berfoto, sementara saya dan tim, menjadi segelintir yang ingin menikmati munculnya mentari pagi dengan ketenangan. Aahhhhh, foto-foto kan bisa nanti…..aaaahhhh…..aaahhhhh….

Ya, walaupun usai mentari perlahan naik, kami juga tidak melewatkan sih narsis sepuasnya. Tapi kan setelah terbit. Turun dari bukit Sikunir, saking banyaknya orang, antrian mengular panjang. Mungkin memang harus dibatasi, demi kelestarian dan ketenangan alam. Terlalu ramai.

di Puncak Sikunir bersama sahabat yang sudah lebih dari 10 tahun bersama...tetep akur kita coooyyy!!

di Puncak Sikunir bersama sahabat yang sudah lebih dari 10 tahun bersama…tetep akur kita coooyyy!!

 

sunrise and milky way hunter...superb view!!

sunrise and milky way hunter…superb view!!

Walau singkat dan belum puas menjelajah, tapi Dieng memberi kesan mendalam buat saya.

Minggu siang kami pulang, menuju Jakarta. Tapi sebelumnya, mencicipi Mie Ongklok khas Wonosobo yang juara di daerah Longkrang. Saking kesohor, warung sederhana di pinggir jalan ini ramai pengunjung. Tapi sebanding dengan Mie Ongklok dan sate sapi yang menggoyang lidah dengan harga cuma Rp20 ribu saja.

Mie Ongklok dan sate sapi yang murah dan legendaris itu...kangeenn

Mie Ongklok dan sate sapi yang murah dan legendaris itu…kangeenn

 

 

 

 

 

 

 

 

Sayangnya, perjalanan pulang sama parahnya dengan perjalanan berangkat. Walau sudah memilih jalur selatan, namun menuju Nagrek kemacetan parah mesti kami hadapi, belum lagi sahabat saya yang mengendarai kendaraan mulai lelah dan ngantuk berat. Sesekali kami menepi, membiarkan dia memejamkan mata barang sejenak. Jalur tol purbaleunyi pun jadi perjalanan mendebarkan buat saya, karena sahabat saya ini mulai menyetir sambil halusinasi saking ngantuknya. Jadilah, jam 6 pagi di hari senin, kami baru tiba di kantor kami tercinta dan langsung bekerja. Andai perjalanan berangkat dan pulang lancar, pasti sempurna liburan ini. Tapi kami tetap menikmatinya, dan ini jadi cerita berkesan.

Jadi trip selanjutnya kita menuju pulau kawan-kawan???

12
Feb
14

Sahrul dan Jamal

(Tulisan ini pernah saya buat untuk Notes di facebook sekitar tahun 2010, rasanya wajib mendokumentasikannya di blog pribadi ini. Sekedar berbagi kisah yang semoga menginspirasi. )

 

Makin hari, pengamen di biskota makin beragam rupanya. Yang konvensional ya nyanyi pakai gitar, tapi udah jarang banget nemu pengamen yang pilihan lagunya bagus dan suaranya enak dikuping. Ada juga yang naeknya rombongan, ada drumer, pianis, gitaris, cuma kurang backing vocal sama penonton bayaran biar rame. Yang nyebelin yang ngamen, modal tepok tangan bahkan silet sambil nunjukin asik debus kacangan. Yang begini biasanya ngamen dengan mengancam penumpang. Sudah jarang mandi sampe ‘aromanya’ tercium radius ratusan kilometer kadang mereka juga bau miras. Masih muda, tapi mentalnya mengemis. Dalihnya pejuang anti kemapanan, padahal ngerti juga enggak konsep anti kemapanan itu kayak gimana.

Realitas sosial macam begini mengingatkan saya dengan dua bocah jalanan yang mewarnai masa kuliah kami, Sahrul dan Jamal.  Semasa kuliah dulu saya dan sahabat kampus punya tongkrongan maut, warteg PS. Biasanya mereka yang tidak terbiasa nongkrong dengan kami akan langsung mencibir dan senyum sinis ketika kami bilang mau nongkrong di PS. Konotasi mereka langsung mengarah pada sebuah mal kelas atas di kawasan senayan. “halah, gaya banget lo pada mo nongkrong di PS,” celetuk seorang kawan. Yang lain lagi menimpali, “ke PS? Pake celana jeans sama sandal jepit gitu? Pede banget lo pada,” timpal yang lain lagi. Dan biasanya kami menanggapi santai sambil menahan tawa, PS yang kami maksud itu Pinggir Sungai, karena memang lokasi wartegnya persis di pinggir sungai di samping kampus kami tercinta.

Di tempat ini biasanya kami menghabiskan waktu istirahat siang kami bahkan nongkrong  semaleman sambil ngobrol, diskusi, berantem dan lebih sering bercanda, bahasa gaulnya, ceng-cengan. Entah kapan tepatnya, tapi seorang bocah lelaki sering sekali duduk di sudut terluar sembari menyaksikan kami yang sedang asik ngobrol atau bercanda. Kalau kami sedang serius dia akan memperhatikan dengan serius pula, begitu pula ketika kami sedang ketawa-ketiwi, dia ikut senyum-senyum. Makin lama, dia berani mendekat sampai akhirnya berkenalan dengan kami.  Namanya Jamal, dia tinggal tidak jauh dari warteg PS, dan dia punya keistimewaan, bocah lelaki ini tunarungu sekaligus tunawicara. Terkadang kami dibuat geli sendiri melihat cara dia menyampaikan sesuatu, dengan keterbatasannya. Jadilah sejak itu, makan siang kami diwarnai kehadirannya. Kalau lagi habis bahan obrolan dan becandaan, biasanya Jamal jadi korban ledekan kami. Walau nggak ngerti ya dia ketawa-ketawa saja.

Tampilannya lusuh, celananya kotor karena kebanyakan main, rambutnya acak-acakan dan jarang mandi. Entah gimana, sinyalnya selalu kuat mendeteksi keberadaan kami di PS, dia pasti tiba-tiba muncul ketika kami asik nongkrong. Setelah itu, kami sering mengajarkan dia membaca, hitung-hitungan walaupun nggak intens, maklum Jamal hiperaktif  dan daya konsentrasinya nggak lama. Kalau sudah bosan, dia akan lari main dengan teman sebayanya, kemudian kembali lagi nongkrong  dengan kami begitu seterusnya.

Usut punya usut, Jamal nggak sekolah apalagi masalahnya kalau bukan karena keterbatasan dana. Dan di rumah dia nggak dapet perhatian dan kasih sayang penuh, orang tuanya seperti acuh tak acuh. Pantas saja tampilanya lusuh.

Alkisah, Jamal pernah diselamatkan hidupnya oleh salah seorang senior di tongkrongan kami. Ceritanya, ketika sedang asyik ngumpul tiba-tiba kehebohan terjadi, beberapa orang berteriak minta tolong karena ada bocah nyemplung ke sungai, tanpa pikir panjang salah satu senior turun ke sungai dan menyelamatkan si anak yang gelagapan. Usut punya usut anak yang nyemplung itu ya si Jamal. Sejak itu hubungan Jamal dengan kami semakin dekat.

Jamal termasuk besar di jalanan, menariknya dia tidak memanfaatkan kekurangannya untuk meminta-minta di bis kota misalnya. Ia memilih jadi tukang ojek payung di kala musim hujan.

Lain lagi dengan Sahrul,pengamen cilik bermodal alat musik sederhana dari kumpulan lempeng tutup botol ini selalu menemani makan siang kami dengan suara fals-nya. Saking seringnya jumpa, kami yang memang terkenal iseng malah asyik mengintogerasi Sahrul bahkan  ngeledek setiap dia mengamen di meja kami. Justru dari situ kami jadi bisa ngobrol panjang dengan Sahrul.  “Kita nggak mau ngasih duit, tapi kalo lo laper, makan aja tar kita bayarin,” ujar salah seorang kawan saya ketika itu. Sambil mesam-mesem menahan malu Sahrul langsung mengambil posisi duduk di antara kami dan memesan makanan.

Cerita pun bergulir, sama seperti Jamal, Sahrul juga tidak sekolah karena keterbatasan dana. Ayahnya sudah meninggal, sementara ibunya sakit-sakitan. Dalam sehari penghasilannya lumayan, rata-rata Rp20 ribu, karena penghasilan lumayan ini pula Sahrul kembali sekolah sekalipun ada yang membiayai. Nama lengkapnya Sahrul Ramadhan, “Kata emak saya lahir pas ramadhan,” celetuknya polos. Ia lalu menceritakan pesan emaknya, “Kalau di jalan nemu duit gopek (Rp500) diamalin aja, tapi kalau nemunya serebu (Rp1000) dikantongin aja,”ceritanya tanpa beban. Spontan kami terbahak-bahak dibuatnya. Semenjak itu, kami mengalokasikan dana untuk makan siang Sahrul, ketimbang ngasih duit lebih tidak mendidik rasanya.

Kisah Sahrul ini kemudian menginspirasi saya sebagai bahan karya tulis salah satu mata kuliah, dan kerennya saya dapat nilai A, bahkan denger-denger di semester berikutnya tulisan feature saya itu dijadikan contoh oleh sang dosen. Ahhh, Sahrul…terimakasih banyak buat kisah jujurmu.

 

Sebenarnya cerita Sahrul dan Jamal sempat mengilhami sahabat saya, Kalista, untuk membuka taman bacaan ketika itu. Sayangnya sampai kami lulus rencana ini sulit sekali terwujud.

Sahrul dan Jamal sudah jadi bagian dari tim tongkrongan kami. Sampai tiba-tiba keduanya menghilang bersamaan, Jamal nggak pernah lagi tiba-tiba muncul ketika kami asik nongkrong, sementara suara fals Sahrul juga tidak lagi terdengar. Kami bertanya-tanya kemana mereka. Jamal, walau rumahnya dekat dengan warteg PS tapi kami enggan berkunjung, konon orang tuanya galak, dan salah-salah kunjungan kami malah membuat tersinggung. Sementara Sahrul entah dimana rimbanya. Dengar-dengar kabar dia masih ngamen tapi entah dimana.

Terhitung sejak itu, kami kehilangan dua sahabat kecil kami.

Sampai suatu hari, kami dibuat kaget bukan kepalang. Dalam perjalanan menuju PS dari kampus, seorang jejaka muda tampak senyum-senyum melihat kami. Tampilannya seperti ABG kebanyakan, rambutnya tampak basah karena minyak rambut dan disisir rapi ke belakang. Semakin dekat, makin jelas, dan benar dugaan kami, itu Jamal. Astagaaa, dia sudah jadi pemuda gagah sekarang, nggak ada lagi baju lusuh dan kumel, tampilannnya juga rapi dan bersih plus wangiiii…. “Jamal?,” ujar saya, “Iya,” jawabnya terbata-bata. “Mau kemana,” tanya kawan saya yang lain. “Kerja,” jawab singkat Jamal lagi. Ternyata dia sudah bekerja di salah satu pusat perbelanjaan di selatan Jakarta.

Usai pertemuan singkat itu, kami seolah belum percaya, cepat sekali bocah lelaki itu tumbuh jadi jejaka. Dan sepanjang siang itu, kami terus membahas soal Jamal. Rasanya terharu sekali, betapa anak yang punya keterbatasan, belum lagi minim perhatian dari orang tua bisa tumbuh menjadi anak yang mandiri. Siapapun dan apapun yang mengawal proses pendewasaan Jamal, rasanya kami ingin mengucapkan terimakasih.

Lepas pertemuan penuh kesan dengan Jamal, kami mendengar kabar bahwa Sahrul juga sudah beranjak besar dan dia masih mengamen. “Lo pada masih ingat Sahrul? Ternyata dia masih ngamen, biasanya di ayam bakar atau di tukang nasi uduk disana itu,dia udah gede sekarang, tapi kayaknya kebawa kehidupan jalanan jadi rusak tuh anak,” cerita salah satu kawan saya, yang kebetulan tanpa sengaja bertemu Sahrul ketika.

Mendengar cerita itu, kami jadi sedih  sekaligus merasa bersalah, andaikan dulu cita-cita Kalista membuat sekolah dan taman bacaan terwujud mungkin lain ceritanya buat Sahrul.

Beberapa saat setelah itu, kami sengaja mencoba makan di warung ayam bakar tempat Sahrul biasa mengamen. Niatnya ingin melihat langsung, tapi nyatanya Sahrul malah menghindari kami.  Dia selalu tidak jadi mengamen kalau melihat keberadaan kami, entah karena malu atau karena merasa terganggu dengan kehadiran kami.

***

Warna-warni cerita semacam ini menjadi kenangan dan ikatan yang membuat persahabatan saya dengan kawan-kawan kampus masih terjalin sampai detik ini. Sekalipun kami sudah lulus, banyak yang sudah berkeluarga dan sudah sibuk dengan karir masing-masing. Namun pengalaman ini, dan banyak pengalaman lain yang kami lewati bersama sedikit banyak membentuk karakter sekaligus kepekaan dan empati kami terhadap kondisi sosial dan sekitar.

Terimakasih buat Sahrul dan Jamal, yang merelakan masa kanak-kanaknya kami ‘racuni’, sekaligus menginpirasi kami. Apa kabarnya ya kalian sekarang? Semoga kehidupan bisa berpihak pada kalian. Salam hangat dari kami……